Bangun Harapan Songsong Masa Depan

Sudah delapan tahun Irina Amongpradja, mengelola ”Sekolah Kami” untuk anak-anak pemulung. Lokasinya di antara rumah para pemulung dan sampah-sampah. Muridnya 127 orang.

Panas terik di suatu siang, seorang perempuan separuh baya tampak berdiri di antara tebaran sampah yang hampir menggunung. Bau tak sedap di sekitarnya tak dipedulikannya. Ia tengah memandangi empang yang dipenuhi tumpukan sampah dan tanaman eceng gondok di pinggirannya. Kemudian ia tersenyum memandang anak-anak yang sedang belajar di dalam kelas, tak jauh dari tumpukan sampah tersebut.

Salah seorang anak berlari ke luar dari kelas. ”Kan ibu bilang tidak ke sini nak, nanti kena paku,” tegurnya pada anak tersebut. Anak yang ditegur tak menjawab. Ia malah tertawa sambil melenggang kembali ke kelasnya. Perempuan itu tersenyum lagi, sambil menggiring sejenak memorinya ke masa lalu.

Tak terasa, sudah delapan tahun Irina Amongpradja, perempuan itu, mengelola tempat anak-anak pemulung belajar. Tempat yang diberi nama ”Sekolah Kami” itu terletak di bilangan Bintara, Bekasi Barat. Posisinya berada di antara rumah para pemulung dan sampah-sampah. Pemandangan yang sangat kontras tampak begitu masuk ”gedung” sekolah. Meski dinding bagian belakangnya masih ditutupi seng-seng, bangunan sederhana itu berdinding anyaman bambu yang tampak artistik.

Di halaman, terdapat taman yang asri. Taman dengan tanaman hias dan rerumputan serta pohon-pohon bambu yang juga berfungsi menjadi pagar, menjadikan sekolah itu cukup teduh. Di tengahnya, ada bangku-bangku kecil dari tebangan pohon. Suasana itu sengaja di desain Irina untuk menjadikan sekolah itu ”surga” buat anak-anak pemulung.

Masuk lagi ke dalam ruangan, tampak puluhan anak sedang belajar. Mereka di bagi dalam tiga kelas. Anak-anak itu tak berseragam seperti layaknya siswa yang belajar di sekolah. Pakaian mereka lusuh, dengan penampilan yang hampir tidak terawat. Namun, semangat mereka tetap terpancar dari tawa riangnya di sela-sela arahan sang guru.

”Ketika pertama kali sekolah ini didirikan, anak-anak itu bertanya, sekolah ini ada benderanya kan Bu?” Irina terharu. ”Dalam kondisi seperti itu, ternyata nasionalisme mereka cukup tinggi.” Kemudian, Irina menceritakan perjalanannya mendirikan sekolah tersebut kepada tim ESQ Magazine.

Awalnya, pasca bertugas di Timor Timur, Irina yang sebelumnya berprofesi dokter, terpanggil untuk membantu anak-anak transmigran korban bencana tsunami di Aceh. Nasib mereka tak menentu. Dan parahnya, sangat sedikit yang peduli untuk mengurus apalagi memikirkan pendidikan dan masa depan mereka. Akhirnya, Irina mengajar mereka di barak-barak. ”Waktu itu, kami meminjam tempat dan bekerjasama dengan teman di Diknas,” tutur lulusan kedokteran Universitas Padjadjaran itu. Saat itu, anak-anak yang belajar masih berjumlah 20 orang. Dan, dalam perjalanannya, Irina sempat kesulitan mencari tempat. ”Kami sempat diusir beberapa kali,” katanya.

Akhirnya, ia menemukan tempat yang aman di bilangan Bintara. Kini, di tempat itu, ia bisa bernafas lega, karena selain bisa mandiri untuk memikirkan kurikulum dan fasilitas belajar, ia tak khawatir lagi diusir. Ia sendiri mengeluarkan kocek pribadinya untuk menyewa tempat tersebut.

Tak hanya itu. Ia memanggil tenaga pengajar khusus yang digaji secara profesional. ”Saya tak mau nantinya ketika jam mereka mengajar, mereka tak datang dengan berbagai alasan ini-itu,” kata alumni ESQ Peduli Kesehatan itu. ”Di sini, yang penting kasih sayang. Kalau anak-anak itu makin nakal, dan kamu marah, berarti kamu belum lulus, ” katanya kepada guru-guru itu.

Kini, anak-anak yang pekerjaan orangtuanya adalah pemulung, pedagang asongan dan tukang ojek itu berjumlah 127 orang. Dari lima kelas, salah satunya sudah memasuki jenjang SMP tahun ketiga. Selain dibebaskan beaya sekolah, mereka diantar-jemput, diberi makan, beras, dan juga keterampilan. Beberapa keterampilan seperti membuat sabun, tas, menjahit dan sebagainya menjadi harapan Irina agar anak-anak bisa mandiri. Jadi, ia tak hanya memikirkan pendidikan, tapi juga masa depan mereka. ”Saya juga buat Balai Latihan Kerja agar saat lulus SMP, mereka juga siap kerja.”

Untuk itu, tak sedikit dana yang dikeluarkannya. ”Operasional yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 30-35 juta,” kata Endang Samino, rekan Irina yang membantu mengelola sekolah tersebut. Karenanya, ketika ada sukarelawan yang bersedia membantu dengan ikhlas, Irina juga mengharapkan mereka juga membantu dalam hal materi. ”Ya, kalau mau bantu, bisa meyumbang beras atau langsung beri makan. Jadi, berbuat baik itu tidak setengah-setengah. ”

Ketika ditanya dari mana sumber dana yang diperolehnya, Irina hanya menggeleng. ”Selama ini, saya tak mengambil dana dari mana-mana. Berbuat baik itu tidak mesti pake calo, kerjakan sendiri, ” katanya. ”Saya percaya, karena Allah itu janjinya tidak pernah meleset. Kebaikan itu kan kembalinya ke kita juga. Karena itu, kita butuh mereka agar kita bisa dekat denganNya.”
Irina kembali memandangi empang di depannya. Ia berencana menjadikan empang itu kolam pemancingan yang bisa menjadi lahan budidaya dan fasilitas belajar anak-anak. Sekali lagi perempuan berusia lima puluh tahun itu tersenyum bahagia.n MARDIANA (ana_esq@yahoo.com)

Alamat Sekolah Kami: Jl. Bintara Jaya IV Dalam Rt 9/3 Bekasi Barat
Alamat dr Irina: Jl. Cipinang Indah Raya E/3 A Jkt 13420 Telp. 021 850 4885

Comments (1) »